Mahabbah Kepada Allah

Sabtu, 16 April 2011 09:04:54 - oleh : admin

Oleh Drs. Ahmad Yani, Ketua LPPD Khairu Ummah


Ketika manusia telah menjadikan Allah swt sebagai Tuhannya, maka
salah satu yang harus ditunjukkannya adalah mencintai-Nya melebihi
kecintaan kepada apapun dan siapapun juga. Karena itu, kecintaan yang
sama antara cinta kepada Allah dengan selain Allah tidak bisa dibenarkan
dalam pandangan iman, Allah swt berfirman:


Dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah
tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka
mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya
kepada Allah. Dan jika seandainya orang-orang yang berbuat zalim itu
mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat), bahwa
kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya, dan bahwa Allah amat berat
siksaan-Nya (niscaya mereka menyesal). (QS 2:165).


Katakanlah: “Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara,
isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan,
perniagaan yang kamu khawatiri kerugiaannya dan rumah-rumah tempat
tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari pada Allah,
Rasul-Nya dan (dari) berjijhad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah
mendatangkan keputusan-Nya”. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada
orang-orang fasik (QS 9:24).


Ada banyak tanda yang harus kita tunjukkan sebagai bukti bahwa kita cinta kepada Allah swt.


1. BANYAK BERDZIKIR.


Secara harfiyah, dzikir artinya mengingat, menyebut, menuturkan,
menjaga, mengerti dan perbuatan baik. orang yang berdzikir kepada Allah
Swt berarti orang yang ingat kepada Allah Swt yang membuatnya tidak akan
menyimpang dari ketentuan-ketentuan-Nya. Ini berarti dzikir itu bukan
sekedar menyebut nama Allah, tapi juga menghadirkannya ke dalam jiwa
sehingga selalu bersama-Nya yang membuat kita menjadi terikat kepada
ketentuan-ketentuan-Nya.


Bagi seorang muslim, berdzikir merupakan hal yang amat penting,
karenanya satu-satunya perintah Allah Swt yang menggunakan kata katsira
(banyak) adalah perintah dzikir kepada-Nya sebagaimana firman Allah Swt:
Hai orang yang beriman, berdzikirlah kamu kepada Allah, dzikir yang
sebanyak-banyaknya (QS 33:41).


Untuk menggambarkan betapa penting dzikir bagi seorang muslim,
Rasulullah Saw sampai mengumpamakannya antara orang yang hidup dengan
orang yang mati, ini berarti dzikir itu akan menghidupkan jiwa seorang
muslim, Rasulullah Saw bersabda:


مَثَلُ الَّذِيْ يَذْكُرُ رَبَّهُ وَالَّذِيْ لاَيَذْكُرُ مَثَلُ الْحَيِّ وَالْمَيِّتِ


Perumpamaan orang yang berdzikir kepada Tuhannya dengan orang yang
tidak berdzikir seperti orang hidup dan orang mati (HR. Bukhari).


2. MENGAGUMI.


Orang yang cinta kepada Allah swt akan kagum terhadap kebesaran dan
kekuasaan-Nya, karenanya ia akan selalu memuji-Nya dalam berbagai
kersempatan sebagaimana yang tercermin pada firman Allah swt: Segala
puji bagi Allah, Tuhan semesta alam (QS 1:2)


Kekagumannya kepada Allah swt tidak akan membuat kekagumannya kepada
selain-Nya melebihi kekagumannya kepada Allah swt meskipun mereka
mencapai kelebihan dan kekuasaan yang besar karena semua itu memang
tidak akan bisa menccapai kebesaran dan kekuasaan Allah, bahkan semua
itu sangat kecil dimata Allah swt.



3. RIDHA


Orang yang cinta berarti ridha dengan yang dicintainya, karena itu
bila seseorang cinta kepada Allah swt, maka iapun ridha kepada segala
ketentuan-ketentuan-Nya sehingga bila ia diatur dengan ketentuan Allah
swt, maka ia tidak akan mencari aturan lain, karena hal itu hanya
membuat ia menjadi tidak pantas menjadi seorang mukmin sebagaimana
firman-Nya: Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak
(pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah
menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain)
tentang urusan mereka. Dan barang siapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya
maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata (QS 33:36).


4. BERKORBAN


Tiada cinta tanpa pengorbanan, begitu pula halnya dengan cinta kepada
Allah swt yang harus ditunjukkan dengan pengorbanan di jalan-Nya. Dalam
hal apapun, manusia harus berkorban dengan segala yang dimilikinya.
Orang yang bercinta pasti dituntut berkorban dengan apa yang
dimilikinya. Orang yang memiliki hobi atau kegemaran harus berkorban
untuk bisa menyalurkan apa yang menjadi kegemarannya itu. Orang yang
berjuang di jalan yang bathilpun berkorban dengan harta bahkan jiwanya.
Abu Jahal, Abu Lahab dan tokoh-tokoh kafir lainnya berkorban dengan
harta dan jiwa mereka. Orang-orang munafik untuk maksud kemunafikannya
juga berkorban dengan apa yang mereka miliki, meskipun pengorbanan
mereka hanya akan menimbulkan penyesalan bagi mereka, Allah Swt
berfirman: Sesungguhnya orang-orang yang kafir itu, menafkahkan harta
mereka untuk menghalangi (orang) dari jalan Allah. Mereka akan menafkah
harta itu, kemudian menjadi sesalan bagi mereka, dan mereka akan
dikalahkan. Dan ke dalam neraka jahannamlah orang-orang kafir itu
dikumpulkan (QS 8:36).


Bila mereka yang berjuang di jalan yang bathil saja mau berkorban,
apalagi dalam perjuangan di jalan yang haq. Karena itu sifat pejuang
sejati adalah mau berkorban dengan harta dan jiwanya, dan cinta kepada
Allah swt berarti harus berkorban di jalan-Nya, ini merupakan kunci
untuk mendapatkan surga-Nya, Allah Swt berfirman: Sesungguhnya Allah
telah membeli dari orang-orang mukmin, diri dan harta mereka dengan
memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu
mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari
Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Qur'an. Dan siapakah yang lebih
menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan
jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar
(QS 9:111).


5. TAKUT


Salah satu sikap yang harus kita miliki sebagai tanda cinta kepada
Allah swt adalah rasa takut kepada-Nya. Takut kepada Allah bukanlah
seperti kita takut kepada binatang buas yang menyebabkan kita harus
menjauhinya, tapi takut kepada Allah Swt adalah takut kepada murka,
siksa dan azab-Nya sehingga hal-hal yang bisa mendatangkan murka, siksa
dan azab Allah Swt harus kita jauhi. Sedangkan Allah Swt sendiri harus
kita dekati, inilah yang disebut dengan taqarrub ilallah (mendekatkan
diri kepada Allah). Ada banyak ayat yang membicarakan tentang takut
kepada Allah dan perintah Allah kepada kita untuk memiliki sifat
tersebut, satu diantara ayat itu adalah firman Allah Swt: Orang-orang
yang menyampaikan risalah-risalah Allah, mereka takut kepada-Nya dan
mereka tidak merasa takut kepada seseorangpun selain kepada Allah. Dan
cukuplah Allah sebagai pembuat perhitungan (QS. 33:39).


Adanya rasa takut kepada Allah Swt, membuat kita tidak berani
melanggar segala ketentuan-Nya. Yang diperintah kita kerjakan dan yang
dilarang kita tinggalkan. Sementara kalau seseorang telah melakukan
kesalahan dan ada jenis hukuman dalam kesalahan itu, maka orang yang
takut kepada Allah tidak perlu ditangkap dan diperiksa, tapi dia akan
membeberkan sendiri kesalahannya itu lalu minta dihukum di dunia ini,
sebab dia merasa lebih baik dihukum di dunia daripada di akhirat nanti
yang lebih dahsyat. Takut kepada Allah memang membuat seseorang akan
memperbanyak amal sholeh dalam hidup di dunia ini, Allah Swt berfirman:
Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak
yatim dan orang-orang yang ditawan. Sesungguhnya kami memberikan makan
kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridhaan Allah, kami tidak
menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih.
Sesungguhya kami takut akan (azab) Tuhan kami pada suatu hari yang
(dihari itu) orang-orang bermuka masam penuh kesulitan (QS. 76:8-10).


6. RAJA’ (BERHARAP)


Cinta kepada Allah swt juga membuat seseorang selalu berharap
kepada-Nya, yakni berharap mendapatkan rahmat, cinta, ridha dan
perjumpaan dengan-Nya yang membuat ia akan selalu meneladani Rasulullah
saw dalam kehidupannya di dunia ini, Allah swt berfirman: Sesungguhnya
telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu
(yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari
kiamat dan dia banyak menyebut Allah (QS 33:21).


7. TAAT.


Ketaatan kepada Allah merupakan sesuatu yang bersifat mutlak,
karenanya manusia tidak bisa mencapai kemuliaan tanpa ketaatan, untuk
itu jangan sampai manusia mendahului ketentuan Allah Swt atau
mengabaikan-Nya, Allah berfirman: Hai orang-orang yang beriman,
janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya dan bertaqwalah kepada
Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui (QS 49:1).


Kunci kemuliaan seorang mukmin terletak pada ketaatannya kepada Allah
dan rasul-Nya, karena itu dengan sebab para sahabat ingin menjaga citra
kemuliaanya, maka mereka contohkan kepada kita ketaatan yang luar biasa
kepada apa yang ditentukan Allah dan Rasul-Nya. Ketaatan kepada Rasul
sama kedudukannya dengan taat kepada Allah, karena itu bila manusia
tidak mau taat kepada Allah dan Rasul-Nya, maka Rasulullah tidak akan
pernah memberikan jaminan pemeliharaan dari azab dan siksa Allah Swt, di
dalam Al-Qur’an, Allah Swt berfirman: Barangsiapa yang mentaati Rasul,
sesungguhnya ia mentaati Allah. Dan barangsiapa yang berpaling, maka
Kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi mereka (QS 4:80).


Manakala seorang muslim telah mencintai Allah swt, maka ia akan
memperoleh kecintaan dari-Nya, ini akan membuatnya bisa menjalani
kehidupan dengan baik.


Drs. H. Ahmad Yani
Email: ayani_ku@yahoo.co.id


kirim ke teman | versi cetak

Berita "Berita Terkini" Lainnya